Showing posts with label Jepang. Show all posts
Showing posts with label Jepang. Show all posts

Thursday, July 24, 2008

SEJUTA PESONA KUIL DI KYOTO

oleh Ariobimo Nusantara

Wisata kuil. Barangkali itulah sebutan yang paling tepat bila kita mengunjungi negeri matahari terbit, Jepang. Betapa tidak, hampir di setiap kota di Jepang selalu dapat ditemui sejumlah kuil yang rata-rata masih berfungsi aktif. Memang, secara umum kuil-kuil tersebut tampaknya nyaris sama antara satu dengan yang lain. Namun, cerita di balik tiap kuil tidaklah sama. Dan, itulah daya tarik yang sebenarnya karena “rasa” Jepang-nya sungguh nyata dibanding hanya keluar-masuk mal yang tak jauh beda dengan mal-mal di Tanah Air.

Salah satu kuil yang sempat saya kunjungi bersama delegasi dari sejumlah negara ketika berada di Kyoto adalah kuil Kiyomizu-dera, sebuah kuil tua milik sekte Hosso dalam agama Buddha. Memang, Hosso hanya sebuah sekte kecil yang berkembang sekitar tahun 657 yang didirikan oleh biksu Dosho dari Cina. Tetapi, jangan anggap remeh. Kompleks kuil ini terbilang sangat luas dengan memanfaatkan kontur alam yang luar biasa indahnya. Luasnya tak kurang dari 130,000 meter persegi dengan lebih dari 30 bangunan di dalamnya, terletak di atas sebuah perbukitan. Begitu pentingnya objek wisata ini sehingga jika kita tidak dalam rombongan wisata, kita tidak perlu khawatir karena tersedia bus umum nomor 206 atau 207 tujuan Kiyomizu-michi atau Gojo-zaka yang menuju objek wisata ini—tentu saja kita tetap harus berjalan sekitar 10 menit karena lokasinya tertutup untuk didaki kendaraan.



Bangunan utama di Kiyomizu-dera, dengan
latar belakang pemandangan kota Kyoto.
Namun, kita tidak perlu khawatir akan merasa lelah atau bosan, sebab selama berjalan mendaki itu, mata kita akan dipuaskan oleh sederetan toko suvenir yang menarik dan mengusik nafsu belanja kita. Mulai dari suvenir kain sutra, boneka tradisional, aneka model samurai, atau porselen Kiyomizu-yaki yang sangat khas; hingga aneka makanan khas seperti es krim rasa teh hijau. Tapi, tahan dulu. Sebaiknya nafsu berbelanja suvenir kita simpan hingga kita menuntaskan maksud tujuan ke tempat ini: Kiyomizu-dera!

Sesampainya di gerbang utama Kiyomizu-dera, hal pertama yang tampak di sisi kiri adalah kandang kuda kuno yang biasa digunakan oleh mereka yang datang untuk bersembahyang kepada Kannon. Dan, sebelum sampai ke kuil utama, Anda harus melewati Nio-mon atau Gerbang Raja-raja Dewa, yang melindungi kuil dari kejahatan. Raja Dewa di sebelah kanan mulutnya terbuka, seperti mengucap "A", bunyi pertama dari bahasa Sanskrit, sedangkan mulut yang lain tertutup seperti mengucap "UN", bunyi terakhir. Jadi, artinya para raja dewa mewakili ajaran Buddha secara komplet.

Kuil yang dibangun lebih dari 1200 tahun lalu ini tercatat dalam daftar World Cultural Heritage yang dikeluarkan oleh UNESCO pada Desember 1994. Meski demikian, kebanyakan bangunan yang ada sudah tidak asli karena kuil ini sempat hancur dan beberapa kali mengalami pemugaran. Kuil ini dibangun pada 798, tetapi bangunan yang ada sekarang adalah hasil pemugaran dari tahun 1633 atas prakarsa Shogun Iemitsu Tokugawa.

Berlama-lama di bangunan tinggi ini kita hanya bisa berdecak kagum tiada henti: teknologi apa yang telah dipakai manusia pada masa itu untuk menghasilkan bangunan spektakular semacam ini.


Air yang Jernih
Sepanjang sejarahnya, banyak bangunan kuil di Kyoto yang terbakar dan dibangun kembali. Tetapi, bangunan-bangunan di kiyomizudera banyak yang masih tetap utuh karena kuil ini tidak pernah terlibat dalam peperangan. Dengan kata lain, kuil ini tidak punya “musuh” sehingga tak ada alasan untuk menghancurkannya. Pernah, kuil ini terbakar sekali, tetapi pada 1633 direkonstruksi oleh Shogun. Maka, meski bangunan sekarang berumur kurang lebih 350 tahun, bangunan aslinya lebih dari 1200 tahun lalu, hampir 20 tahun sebelum ibukota Jepang pindah ke Kyoto.



Kiyomizu-dera secara harfiah artinya air yang jernih. Dinamakan demikian karena di bagian bawah kuil ini terdapat air terjun yang terkenal, yang bersumber dari Gunung Otowa selama ribuan tahun. Ini adalah satu dari sepuluh air jernih yang terkenal di Jepang. Sumber air yang jernih ini kemudian dipancurkan melalui tiga pancuran dan dipercaya sebagai air suci. Pancuran ini disebut Otowa-no-taki (Sound of Feathers Waterfall).

Pancuran Otowa-no-taki. Sudah tak terbilang orang yang minum air dari pancuran ini. [repro: japan page] -

Menurut legenda ketiga pancuran ini masing-masing melambangkan wajah tampan/cantik, umur panjang, dan kebijaksanaan. Di sinilah uniknya, saking jernihnya air yang keluar dari pancuran-pancuran ini maka air bisa langsung diminum. Namun, ada aturannya. Orang hanya boleh minum dari salah satu pancuran. Silakan, mau pilih (dari kiri ke kanan) umur panjang, berwajah tampan/cantik, atau bijaksana. Apa yang akan Anda pilih? Ingat, jika Anda “tamak” dan meminum ketiga sumber tersebut maka Anda justru tidak akan mendapatkan apa-apa. Apalagi kita hanya boleh berada di depan pancuran ini selama 45 detik saja!

Cara mengambil air ini pun sangat unik. Di dekat pancuran tersebut tersedia sejumlah gayung bergagang untuk mengambil air dan meminumnya langsung. Pancuran tersebut tetap mengucur deras hingga hari ini, meski tiap hari ratusan hingga ribuan orang datang dari berbagai penjuru dunia dan meminumnya. Higienis? Jangan khawatir. Gayung-gayung ini ditempatkan dalam semacam lorong yang disinari oleh sinar ultra untuk sterilisasi. Sungguh merupakan konsep perpaduan antara unsur tradisional dan modernitas yang sangat jenial.
Dengan rasa penuh ingin tahu—antara percaya dan tidak—saya pun memberanikan diri ikut meminum ”air ajaib” itu. Saya coba buang jauh-jauh perasaan ragu dan jijik saat mengambil salah satu gayung dan menadah air. ”Peduli amat, siapa tahu kepercayaan ini memang benar adanya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi saya bisa sampai ke tempat ini,” begitu pikir saya. Tapi, jujur saja, saat di depan pancuran, saya tak sempat lagi memilih mau memilih khasiat yang mana. Semuanya berlalu begitu cepat!

Agaknya, inilah roh dari kuil ini, mengingat pendirinya, biksu Enchin, pada awalnya memang memimpikan untuk membangun sebuah kuil di sebuah air terjun dari sebuah sumber yang jernih, Sungai Yodogawa. Menurut legenda, mimpi itu segera diwujudkannya ketika suatu hari ia melintas di air terjun di Otowa dan bertemu dengan Gyoei, seorang pendeta tua yang memberinya balok kayu, yang harus diukirnya dengan wajah Kannon.

Kompleks Raksasa
Beruntung, saya sempat mengunjungi kompleks ini pada awal-awal musim semi. Selain udara yang tidak terlalu panas juga bisa menyaksikan saat bunga-bunga sakura hendak mulai bermekaran. Lansekap tempat ini memang banyak ditumbuhi oleh tanaman khas Negeri Matahari Terbit itu. Sangat sentimental. Toh demikian, kita juga perlu berhati-hati saat menghirup udara karena serbuk-serbuk bunga yang sangat halus bisa saja ikut terhirup dan mengganggu pernapasan kita. Hidung bisa tiba-tiba terasa perih dan tiba-tiba mengalami mimisan. Setidaknya sekali-dua kali saya sempat mengalami hal itu.

Kompleks kuil ini memang luar biasa luasnya dengan sejumlah bangunan yang sayang untuk dilewatkan. Tengok saja bangunan utamanya. Bangunan aslinya yang merupakan sumbangan dari Tamuramaro telah hancur terbakar pada 1629, sedang bangunan yang sekarang adalah berarsitek periode Heian. Di dalamnya, didekorasi oleh 30 lukisan sumbangan para pedagang selama pembangunan tahun 1633. Konon kabarnya, gambar asli Kannon yang dibuat oleh Echin disimpan di sebuah kotak dengan 28 tiruannya di sisinya. Namun, apabila Anda berharap menyaksikan langsung gambar dewa berwajah-sebelas dengan seribu-senjata ini, Anda harus menunggu hingga tahun 2010. Pasalnya, gambar asli ini hanya ditunjukkan sekali dalam 30 tahun dan penunjukkan yang terakhir adalah pada 1977.

Di bagian luar dari bangunan ini terdapat sebuah panggung tari atau yang disebut Butai. Panggung ini dibuat dari kayu-kayu perancah dari pohon zelkova yang menyangga panggung seluas 10 meter persegi di atas tebing setinggi 12 meter. Bangunan ini berada di titik tertinggi dalam kompleks. Pemandangan dari sini sungguh mengagumkan karena sejauh mata memandang kita akan dipuaskan oleh keindahan panorama sekitar tanpa halangan. Begitu tingginya tempat ini sehingga ada pepatah Jepang mengatakan ‘jumping of the Kiyomizu’ yang maknanya baru akan kita mengerti setelah kita berada di tempat ini. Betapa tidak, siapa pun orangnya dan apa pun alasannya, orang harus berpikir seribu kali sebelum melompat dari Butai. Inilah tempat favorit bagi para wisatawan untuk berfoto dan sangat popular menghiasi kartupos-kartupos dari Kyoto. Ke arah selatan Anda akan melihat Koyasu-no-to (pagoda utk memudahkan kelahiran), yang berisi gambar Koyasu Kannon. Pemandangan ini sangat indah difoto, terutama saat musim gugur ketika daun-daunan berwarna oranye dan merah.

Setiap bangunan yang ada di kuil ini memiliki fungsi masing-masing. Kyodo misalnya, bangunan ini adalah tempat menyimpan naskah-naskah suci. Sementara, Kanisan-do merupakan bangunan tempat menyimpan gambar para pendiri kuil ini. Bangunan yang juga disebut Tamura-do ini dipindahkan dari Nagaoka ke Kiyomizu-dera pada akhir abad ke-8.

Ada hal yang menarik di kompleks ini, yakni di sisi bangunan Asakura-do terdapat telapak kaki Buddha. (Pada masa-masa awal buddhisme, untuk mengingat sang Buddha tidak ditunjukkan dengan gambar Buddha atau boddhisatva melainkan diwakili oleh gambar telapak kaki.) Menurut kepercayaan, jika seseorang melihat ke arah telapak kaki itu maka seluruh dosanya akan terampuni. Bila diamati lebih dekat pada telapak kaki itu akan terlihat sejumlah simbol termasuk sepasang ikan, hiasan bunga, dan kerang-kerangan. Ke arah tumit, samar-samar akan terlihat roda hukum kebenaran Buddha.

Bangunan yang juga cukup menarik adalah Amida-do, sebuah bangunan kecil yang memuat 180 patung-patung kecil Jizo (penjaga anak-anak). Menurut cerita rakyat, ini adalah tempat bersembahyang bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Dengan bersembahyang di sini, mereka akan mendapatkan ketenangan batin dan bila ada di antara patung-patung kecil itu yang terlihat menyerupai wajah si anak, maka itu pertanda bahwa sang anak ada dalam kedamaian.

Berfoto dan ”mengawetkan diri” alias bergaya di tempat-tempat wisata adalah hukum tak tertulis bagi para wisatawan. Namun, bila suatu hari nanti Anda berkesempatan berkunjung ke Kiyomizu-dera, Anda akan merasa rugi bila hanya disibukkan dengan acara mengambil gambar di sana-sini lalu pergi. Banyak hal yang bisa kita lakukan di kuil yang sangat fenomenal ini. Misalnya saja, menyimak cerita-cerita menarik dari pemandu wisata (dan menggalinya lebih dalam), mengamati atau mengikuti para peziarah, hingga merasakan segarnya air Otowa-no-taki. Karena, hanya dengan penghayatan secara totallah kita benar-benar bisa mengecap pesona Kiyomizu-dera seutuhnya.

*(versi cetak telah dimuat di Koran Tempo edisi Minggu, 20 Juli 2008)

Saturday, June 28, 2008

Nara:
Kota Kecil dengan Patung Buddha Terbesar di Dunia


Oleh Ariobimo Nusantara


Kunjungan saya ke Nara atas undangan ACCU (Asia/Pacific Cultural Center for Unesco) yang berpusat di Tokyo, yang baru saja meresmikan kantor cabangnya yang baru di kota Nara. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, mengingat bahwa kantor cabang ini akan lebih banyak berurusan dengan “tangible heritage” dari seluruh dunia, maka dipilihlah sebuah kota yang memiliki aset warisan sejarah dan budaya yang cukup lengkap, bukan saja yang tampak di permukaan tanah, tetapi juga yang masih berada di bawah permukaan tanah.


Kekayaan Nara bukan main-main, misalnya saja, "Monumen Buddhist di wilayah Horyu-ji" atau "Monumen Sejarah Kota Lama Nara" kini termasuk dalam daftar warisan dunia, yang dikenal luas sebagai “rumah spiritual” bagi masyarakat Jepang.

Ibarat sebuah laboratorium alam, Nara tak henti menjadi pusat penelitian sejarah budaya Jepang. Lihat saja, istana Nara yang pernah menjadi nadi kehidupan politik Jepang selama 74 tahun dari tahun 710 itu, saat ini baru berhasil diekskavasi 1/3 bagian dari total 120 hektar. Padahal, ekskavasi arkeologis itu telah dimulai sejak 1955. Meski demikian, kehati-hatian dan kecermatan para peneliti berhasil menyingkap bagaimana peran istana dan menelusur sistem administrasi dan birokrasi, perubahan-perubahan sejarah yang dialami, serta gaya hidup masyarakat di masa itu.

Pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana kota ini bisa begitu rapi dan awet menyimpan warisan sejarah mereka? Bisa jadi hal ini terkait dengan letak geografis Nara yang ibarat telor mata sapi, dikelilingi oleh barisan pegunungan, dengan Nara sebagai ‘kuning telornya’. Konon, letak geografis semacam inilah yang dulu juga melatari pertimbangan pemilihan kota ini sebagai ibu kota lawas Jepang. Secara alami, letak geografis Nara yang terlindung ini dinilai sangat membantu dalam bidang pertahanan dan keamanan kota.
"Pemandangan Kota Nara yang sama modernnya dengan kota-kota lain di Jepang,
meskipun tidak sesibuk Kyoto, apalagi Tokyo."

Bagi wisatawan yang punya minat dan ketertarikan dalam hal budaya, kunjungan ke Nara memang patut dimasukkan dalam rencana. Namun, bukan berarti lantas kota berpenduduk 300.000 jiwa ini boleh dilewatkan begitu saja. Sebab, bila ada niat, wisatawan bisa ‘menghabiskan’ kota ini dalam sehari saja. Dan, itu adalah pemandangan biasa di Nara: wisatawan asing berdatangan pada pagi hari (umumnya dari kota-kota di sekitar Nara) dan pulang pada sore harinya. Tetapi, kalau punya waktu berlebih, menginap semalam-dua malam di Nara juga tidak ada ruginya karena dengan demikian kita dapat mengenal Nara dengan lebih detail. Kunjungan ke berbagai objek wisata bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya ikut city tour, menyewa taksi, bus kota, atau bahkan berjalan kaki bagi mereka yang doyan jalan kaki.
Kota Pelajar
Selain sebagai kota budaya, Nara juga dikenal sebagai kota pelajar. Situasi kota ini memang sangat mendukung kegiatan belajar-mengajar. Nyaman dan tenang, apalagi boleh dibilang tidak ada kehidupan malam di kota ini. Inilah barangkali yang juga menjadi alasan mengapa para wisatawan memilih menjadi komuter untuk mengunjungi kota ini.

Periode Nara sebagai ibukota Jepang memang sangat pendek, dibandingkan dengan Kyoto yang menjadi ibu kota Jepang lebih dari satu milenium. Meski demikian, periode ini sangat penting karena pada masa-masa inilah Jepang mengadakan komunikasi aktif dengan negara-negara Asia Timur dengan mengembangkan sistem politik dan legal yang mirip dengan Negeri Cina. Perpindahan ibu kota ini berdampak pula pada kehidupan penduduk Nara. Sebab, begitu ibu kota dipindahkan ke Kyoto maka sebagian besar wilayah Nara lambat laun berubah menjadi areal persawahan. Kecuali sejumlah kuil yang tetap bercokol di Nara sehingga Nara dikenal sebagai kota kuil.
"Kijang bebas berkeliaran di halaman
kompleks Kuil Todai-ji tanpa takut akan disakiti oleh manusia."
Sebagai salah satu kota yang termasuk dalam “the most beautiful cities in the world” sekaligus sebagai kota antik seperti Athena dan Roma, Nara menjadi tempat persilangan budaya Timur dan Barat karena terletak pada “jalur sutra” (jalur perdagangan internasional dari Cina ke Mediterranian di masa pramodern). Mayoritas kuil Buddha yang ada di Nara mendapat pengaruh dari jazirah Korea atau juga dari Cina di abad ke-8 yang lantas mengalami proses perkembangan yang unik di Jepang. Bangunannya menyajikan budaya arsitektur kayu di abad ke-8 yang menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara Jepang dengan Cina dan Korea.

Nara kini sudah menjadi kota modern. Meski demikian, di kota ini masih terpelihara bangunan-bangunan bersejarah yang berumur hingga 1300 tahun sehingga menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung ke kota ini. Suasana Nara terasa sangat nyaman dan jauh dari hiruk-pikuk seperti layaknya di Kyoto, apalagi Tokyo. Namun, jangan lantas membayangkan Nara sebagai kota yang kumuh dan sederhana. Tertib masyarakat sebagai ciri masyarakat Jepang tetap terpelihara, demikian pula Nara tidak ditelantarkan dalam hal modernisasi kota.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Nara adalah tempat lahirnya budaya Jepang. Tak heran bila Nara mendapat status yang signifikan dalam keseluruhan budaya Jepang. Di antara bangunan-bangunan bersejarah yang ada di Nara, delapan monumen telah ditetapkan sebagai bagian dari “The World Cultural Heritage”. Salah satunya adalah Kuil Todai-ji di mana di dalamnya terdapat patung Buddha yang terbesar di dunia.

Kuil Buddha Terbesar
Dua kuil yang sangat berpengaruh pada waktu itu adalah Kofuku-ji dan Todai-ji. Tak pelak, pembentukan kota pun berpusar pada dua kekuatan ini. Namun, kedua kuil besar ini akhirnya harus hancur saat terjadi peperangan antara klan Minamoto dan Taira (1180). Renovasi pun segera dilakukan dan itulah yang kita li
hat hingga saat ini—khususnya kuil Kofuku-ji. Sebab, sekali lagi, Todai-ji menjadi korban perang, terbakar (1567). Kembali, kuil ini mengalami renovasi, sayangnya ukurannya terpaksa mengecil menjadi hanya 2/3 dari aslinya.
Kompleks Todai-ji dibangun tahun 743, terdiri dari beberapa bangunan yang tersebar di dalam kompleks. Fungsinya antara lain sebagai tempat belajar, tempat memuja Buddha guna memohon kedamaian, tempat penyembuhan—semacam rumah sakit, tempat diskusi politik, ekonomi, dan hubungan internasional, serta sebagai tempat menyimpan kekayaan seni Buddhis. Katakanlah sebagai sebuah pusat budaya di Jepang.

Pada masa itu, agama Buddha memang berada pada puncak kejayaannya, dan menjadi agama negara. Peninggalan yang sangat terkenal dari kuil ini adalah Daibutsu, patung Buddha setinggi 15 meter! Pembuatan patung yang terbuat dari campuran tembaga (499 ton), merkuri (2.5 ton), timah (8,5 ton), dan emas (440 kg) ini konon mengerahkan kurang lebih 3 juta orang.

"Patung Buddha terbesar di dunia dalam Kuil Todai-ji."
Bisa kita bayangkan, bila patungnya sendiri sebesar itu, berapa besar gedung yang memuatnya. Daibutsu-den, demikian nama gedung itu, tingginya 47 meter dan seluruhnya terbuat dari kayu. Inilah bangunan kayu terbesar di seluruh muka bumi. Dari luar gedung itu tampak seolah berlantai dua, yakni dengan adanya dua atap bersusun. Namun, sesungguhnya itu hanyalah perhitungan arsitektur yang cermat untuk membagi beban atap gedung yang sangat besar itu. Bukan hanya itu, penempatan sejumlah pilar besar yang menyangganya juga sangat unik. Tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi berada pada semacam tatakan semen. Semua kecermatan arsitektural itu rupanya untuk mengantisipasi bila terjadi gempa bumi. Bangunan ini dikerjakan selama lima tahun dan selesai dibangun pada 752, dengan ukuran tinggi 47 meter, panjang 51 meter, dan lebar 88 meter. Kayu-kayunya kebanyakan didatangkan dari daerah sekitar Nara, Shiga, Hyogo, dan Mie, dan memanfaatkan aliran sungai Kinki.

Memang, bukan berarti lalu kuil ini terhindar dari bencana gempa bumi. Dalam catatan sejarah, karena gempa bumi, kepala patung itu jatuh dan rusak parah sehingga harus mengalami renovasi. Tetapi, tragedi yang justru meluluhlantakkan bangunan bersejarah ini datang dari manusia sendiri: perang antarklan di pertengahan abad ke-16 yang mengakibatkan kompleks kuil itu terbakar (1180 & 1567), kecuali gedung Sangatsu-do dan gerbang Tegai-mon. dengan terbakarnya Daibutsu-den maka patung Buddha Rushana atau Vairocana itu kehilangan “rumah” lebih dari satu abad! Daibutsu-den baru dibangun kembali pada 1692. Dan bangunan yang bisa kita saksikan sekarang ini adalah hasil dari renovasi tahun 1709.

Kompleks kuil Todai-ji juga dilengkapi dengan sebuah taman yang luas. Menariknya, selain dirindangi oleh pepohonan dan bunga-bunga, taman ini juga “dihiasi” oleh kawanan rusa yang hidup bebas. Pengunjung dapat berfoto dan bercengkerama dengan rusa-rusa ini, apalagi kalau pengunjung membawa kue-kue kesukaan rusa.

Shuni-e atau Omizutori
Bila kita berkesempatan mengunjungi kuil Todai-ji di bulan Maret, itu bertepatan dengan sebuah acara khas Todai-ji: upacara Shunie atau Omizutori. Memang, kita tidak bisa terlibat atau melihat langsung upacara tersebut karena ini merupakan upacara intern kuil. Wisatawan hanya bisa menikmati upacara ini pada malam hari—itupun dari luar—yakni saat obor-obor kuil dinyalakan.

"Tiang-tiang Kuil Todai-ji tidak ditanam, melainkan hanya diletakkan di atas tatakan semen."
Upacara Shuni-e dimulai sejak tahun 752 dan berlangsung di gedung Nigatsudo. Pada awalnya, upacara ini dilangsungkan pada bulan Februari (Shuni-e = upacara bulan kedua). Namun, bersamaan dengan dipakainya sistem kalender matahari maka upacara ini kini berlangsung mulai dari tanggal 1-14 Maret. Inti dari ritual yang juga populer dengan nama Omizutori ini (Omizutori = mengambil air suci) adalah pengambilan air suci dari sumur Wakasa pada jam 02.00 dini hari tanggal 13 Maret. Air suci ini lalu dibagikan kepada pengunjung dan juga dipersembahkan kepada dewa Kannon-berkepala-sebelas di Nigatsudo. Lalu, airu itu dituangkan ke dalam dua wadah: satu berisi air dari upacara tahun lalu, satu lagi wadah yang berisi air dari ritual sepanjang 1200 tahun!

Maksud dari upacara ini adalah untuk kemurnian hidup manusia di muka bumi ini dengan bersembahyang kepada dewa Kannon-berkepala-sebelas untuk kesejahteraan dan perdamaian dunia. Antara lain, mereka berdoa untuk korban bencana alam, perang, kelaparan, dan perwujudan perdamaian dunia. Upacara ini dilakukan oleh sebelas pendeta-Buddha (Rengyoshu) yang selama dua minggu mereka membaca sutra enam kali sehari. Inilah ritual yang paling terkenal di Jepang sejak abad ke-8 dan tidak pernah absen dilangsungkan hingga tahun ini, termasuk ketika Perang Dunia dan kekacauan pasca Perang Dunia II.

Sebagai puncak dari ritual ini adalah pesta obor yang sangat indah, yang populer dengan sebutan Otaimatsu. Sebelas keranjang obor yang sudah dipersiapkan dibawa oleh kesebelas Rengyoshu ke balkon Nigatsudo, lalu diayun-ayunkan di depan pengunjung. Tak salah bila ritual ini disebut-sebut sebagai ritual air dan api yang sangat agung. Dan, seolah melengkapi keagungan dari ritual ini, berakhirnya upacara Omizutori menandai berakhirnya musim dingin di Jepang dan awal dari musim semi yang cantik.
* (telah dimuat di Kompas edisi Minggu, 27 Juli 2003)