Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Saturday, May 02, 2009

KIAT MERENGKUH PASAR REMAJA
Oleh : A. Ariobimo Nusantara

Dalam kebijakan pemasaran ada kepercayaan bahwa salah satu lahan bisnis yang menuntungkan adalah pasar remaja. Kepercayaan ini bukan tanpa alasan, karena menurut laporan Survei Research Indonesia (SRI) dari tujuh kota besar di Indonesia, seperlima dari pasar adalah kaum remaja.

Maka tidaklah mengherankan bahwa kelas ini diincar oleh banyak produk yang diciptakan khusus untuk mereka. Misalnya, Close Up, Belia, Nike, BENETTON, SWATCH. Bukan hanya itu, produsen pun tampaknya berani berspekulasi untuk tumpang tindih mengeluarkan produk-produk sejenis. Contoh konkret misalnya, di tahun 1980-an remaja kita begitu tergila-gila pada jam merek ALBA. Tetapi popularitas ALBA mendadak tergeser oleh SWATCH. Itu pun tidak lama bertengger karena kemudian BENETTON mampu meraup perhatian remaja kita. Demikian berturut-turut, sampai munculnya demam BOSSINI dan GUESS akhir-akhir ini.

Menurut Ronald Alsop dan Bill Abrams dalam The Wall Street Journal on Marketing, para pemasar setuju bahwa pasar remaja adalah pasar yang tidak pernah stabil. Untuk itu, bila ingin tetap menyasar pasar remaja David Hirsch, Presdir dari Santa Cruz Import Inc., pernah menyarankan agar perusahaan mempunyai budaya yang mampu mengatisipasi setiap perubahan selera remaja.

Remaja sebagai “Trendsetter”
Kondisi yang sama juga terjadi dalam industri perbukuan. Remaja tahun 1980-an begitu tergila-gila pada buku-buku petualangan misalnya Cerita dari Lima Benua dan Seri Lima Sekawan. Tetapi, selera itu secara drastis berubah di tahun 1990-an. Lewat seri Lupus seakan-akan kaum remaja kita menemukan selera dan idola baru. Tokoh yang sedikit urakan, gaya bahasa yang manasuka, dan kemasan yang nyleneh ternyata sangat digemari. Begitu pula ketika komik-komik terjemahan mulai mengisi outlet-outlet toko buku Indonesia, kaum remaja akan semakin termanjakan. Komik-komik dengan cerita silat ringan dan romansa menjadi oase yang menyejukkan dahaga keliaran imajinasi mereka.

Judul lain yang juga mendapat sambutan adalah seri Goosebumps dan Fear Street keduanya karya R.L. Stine. Berbeda dengan dua jenis buku sebelumnya, Goosebumps dan Fear Street menyuguhkan cerita-cerita super seram dan misteri yang menengangkan. Bahkan, untuk mengikat loyalitas pembaca, penerbit kedua buku ini berani menjamin setiap bulan muncul judul baru.

Memang, salah satu strategi untuk mereguk profit dari menerbitkan buku-buku remaja adalah memelihara baik-baik loyalitas pembaca. Keberhasilan dari strategi ini sudah teruji. Ambil contoh, ketika remaja kita sedang gandrung pada Lupus, strategi promosi dan pemasaran buku ini lalu mendapat perhatian khusus. Misalnya, mengadakan jumpa penggemar dengan pengarang; menjamin kelancaran terbitnya judul baru setiap bulan; dan setelah mulai mengakar membuat varian dari seri ini (Lupus kecil).

Dampaknya sungguh luar biasa. Seri Lupus telah tercetak di atas satu juta eksemplar, satu angka fantastis bagi dunia perbukuan. Bahkan mungkin angka ini masih bisa didongkrak lagi mengingat tokoh Lupus mulai digarap lewat sinetron.

Hal yang sama juga dialami oleh komik-komik terjemahan. Meski di sana-sini masih terdengar upaya penolakan terhadap produk ini, toh judul-judul unggulan dari komik terjemahan minimal dicetak 40.000 eksemplar. Angka ini akan semakin terlihat fantastis karena setiap judul terdiri dari belasan hingga puluhan nomor. Bahkan posisi produk ini dikabarkan semakin kuat mencengkram dan mampu meluaskan pasar sasaran ketika jaringan televise swasta ikut menayangkannya dalam bentuk film kartun.

Kendala Penerbit Indonesia
Sayangnya, seperti sering dikeluhkan, kebanyakan buku yang digemari oleh remaja kita adalah karya-karya asing yang dialih-bahasakan. Memang, inilah masalah laten dunia penerbitan kita. Dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia masih berada di urutan paling bawah dalam pengadaan buku anak-anak dan remaja. Apalagi jika dibandingkan dengan negara Eropa seperti Jerman yang kabarnya mempunyai 150 penerbit buku yang khusus menerbitkan bacaan anak-anak dan remaja dan lebih dari 3.000 orang menamakan diri “Pengarang Bacaan Anak-anak dan Remaja”. Mereka adalah para tokoh yang bekerja maupun pernah bekerja dalam bidang pendidikan.

Sementara di Indonesia, jumlah penerbit yang mengkhususkan diri dalam pengadaan buku anak-anak masih bisa dihitung dengan jari. Menurut catatan IKAPI, dari 330 penerbit yang terdaftar, 110 di antaranya kini sudah gulung tikar. Sementara dari sisanya, hanya 20% atau sekitar 60 penerbit yang berani menerbitkan buku 15 judul setahun. Dari jumlah itu, hanya 30% buku yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja.

Ditilik dari sisi pengarang kondisinya lebih menyedihkan. Untuk produk sekelas Lupus, kita hanya memiliki Hilam Hariwijaya, Gola Gong, Zara Zetirra ZR, Mira W, Gus TF Sakai, Bubie Lantang, Lutfie dan Dwianto Setyawan. Kondisi ini jelas tidak sebanding dengan gejolak dinamis konsumen remaja, sehingga tidak mengherankan jika penerbit selalu terseok-seok dalam mengantisipasi setiap perubahan selera remaja.

Mendulang Selera Remaja
Lantas bagiamanakah cirri utama buku yang digemari remaja kita saat ini? Yang jelas, bukan buku dengan plot cerita yang datar-datar saja, yang hanya berkisa tentang tokoh Tono dan Tini (meminjam istilah P. Drost. SJ), yakni tokoh yang selalu alim, berbudi baik, penurut , dan seabreg nilai positif. Yang sedang digandrungi adalah sosok yang benar-benar jauh dari dunia keseharian mereka, yang memberi sentakan-sentakan tersendiri. Kebetulan, cirri utama ini baru ditemukan dalam buku-buku sekelas Lupus dan cerita impor.

Mari kita urai bersama. Lupus misalnya, dia digambarkan sebagai tokoh yang urakan, ceplas-ceplos, suka jail. Bagaimana dengan tokoh Usagi dalam komik Sailor Moon? Sama saja. Karakter Usagi adalah seorang siswa SMP yang suka bangun kesiangan dan nilai ulangannya selalu jelek. Namun, kekurangan itu ditutup dengan unsur heroik dan romantisme yang memukau. Nah, formula inilah yang perlu dikembangkan oleh para pengarang buku yang bersasaran remaja.

Pendeknya, pengarang tak perlu membangun cerita berdasarkan plot-plot keseharian, tetapi bisa ‘liar’ meloncat kemana saja berusaha mendulang tren, selera dan gejolak remaja yang dinamis. Inilah sejumput kiat bagi penerbit dan pengarang yang hendak menyasar pasar remaja.



[pernah dimuat dalam buku panduan pameran buku 1995]
TIPS BINA GEMAR MEMBACA
Oleh A. Ariobimo Nusantara

Persoalan meningkatkan gemar membaca barangkali sudah menjadi topik yang selalu diulang-ulang setiap kali ada kegiatan perbukuan. Bisa jadi ada di antara kita yang sudah “putus asa” menghadapi persoalan ini. Alhasil, kata-kata “Meningkatkan Gemar Membaca” pun dirasa sekadar slogan, basa-basi belaka yang hasilnya sukar teraba.

Benar memang. Membiasakan gemar membaca (di Indonesia) bukan masalah enteng. Konon, ada yang menyebut bahwa hal ini merupakan indikasi kuat bahwa tradisi lisan teramat melekat erat di masyarakat. Buktinya, orang lebih senang menghabiskan waktu dengan mengobral obrol; lebih betah memelototi televisi atau memeluk radio berjam-jam lamanya ketimbang membaca; pertunjukan musik, layar tancap, arisan dan seminar lebih mudah menarik massa daripada pameran buku.

Dari sini, semakin kentaralah bahwa perubahan drastis ke arh masyarakat gemar membaca masih membutuhkan waktu panjang. Namun, bukan berarti kondisi ke arah itu tidak bisa diciptakan. Salah satunya ialah dengan sedini mungkin mendekatkan anak dengan buku. Mengutip pendapat Prof. Janine Despinette, seorang ahli dan kritikus buku anak asal Prancis, bahwa sejak usia dini anak juga perlu belajar mendengarkan cerita yang dibacakan orangtua atau guru mereka, sehingga mereka mampu menghargai apa yang ada dalam cerita itu.

Sayangnya, sekarang banyak orangtua sudah semakin sibuk untuk mengemban tugas ini. Sementara, anak belum siap dilepas sendiri mengupas buku-buku cerita. Lantas, usaha apa yang pantas dilakukan agar anak semakin berjabat erta dengan buku?

Banyak saran mengatakan alangkah baiknya jika orangtua bisa menyediakan waktunya untuk menemani anak dalam memilih bacaannya, bahkan kalau perlu ikut menyukai dan membacakannya. Dengan demikian, orangtua dapat mengarahkan dan menjelaskan kepada anaknya bacaan apa yang sesuai dengan usia dan tingkat pengetahuannya. Tetapi, bagaimana bila saran ini kurang mempan bagi bangsa yang terlanjur akrab dengan tradisi lisan?

Karen O’Connor, dalam buku How to Hook Your Kids on Books (diterbitkan Thomas Nelson Publisher: Neshville, 1995), mencoba menjawab masalah semacam itu. Ia mengulas berbagai teknik dan cara mendorong anak agar gemar membaca. Sistematika buku ini dibagi dalam tiga bab utama, yaitu mengenalkan buku (Introduce Book), mendorong minat baca (Encourage Reading), dan membantu pengayaan minat baca (Foster Reading Enrichment). Tiap-tiap bab membawahi beberapa kiat yang tidak saling mengikat.

Buku ini ternyata menyimpan segudang pengalaman dan kiat bina gemar membaca yang tidak pernah kita dengar sebelumnya.

Mendorong anak untuk gemar membaca pada dasarnya bermuara pada peran aktif orangtua. Seorang ibu yang sedang mengandung misalnya, tidak salah bila mulai suka membacakan cerita-cerita bagi janinnya. Setelah lahir, si bayi tetap dikondisikan dekat dengan buku. Caranya, sisipkanlah satu-dua buku (dimulai dari pictorial book) di antara mainannya. Begitu seterusnya, seturut perkembangan anak sampai akhirnya anak memiliki semacam koleksi pribadi.

Setelah anak lepas dari masa “balita”, orangtua dapat mendorong pengalaman perbukuan yang lebih serius. Ada beberapa cara: membacakan cerita menjelang tidur, membiasakan hadiah berupa buku, mengadakan semacam “arisan keluarga” dengan kegiatan utama membaca satu-dua buku cerita, atau mendiskusikan tema suatu buku. Gagasan yang cukup menarik adalah menggunakan buku untuk merencanakan kegiatan liburan. Misalnya, anak mempunyai bacaan tentang dinosaurus, tidak ada salahnya bila pada suatu kesempatan, mereka diajak mengunjungi museum biologi yang memiliki koleksi binatang purba.

Cara lain, mengadakan semacam studi wisata ke penerbit atau perpustakaan, memotivasi anak untuk terbiasa memberi santunan buku kepada anak terlantar. Atau, yang lebih serius, mendorong anak berbuat sosial dengan cara membacakan cerita bagi pasien anak-anak di rumah sakit.

Bagi anak remaja, O’Connor menyarankan agara orangtua mulai menugasi anak membuat satu narasi tentang keluarga, bisa tentang silsilah, acara liburan, menulis surat, atau membuat buku harian. Anak yang lebih tua diminta membacakan cerita bagi adik-adiknya, atau membuat synopsis dan anotasi dari suatu cerita.

Bagaimana jika anak tetap tidak mau akrab dengan buku? Gampang. Orangtua jangan selalu bersedia menjadi “ensiklopedi berjalan” yang mampu menjawab setiap pertanyaan anak. Sekali waktu arahkan anak untuk mencari jawab atas pertanyaannya lewat buku atau ensiklopedi.

Kiat-kiat jitu O’Connor boleh dikata khas Amerika, yakni memberi keleluasaan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Namun demikian, bukan berarti buku ini tidak cocok untuk kondisi Indonesia karena ada kiat-kiat yang bersifat universal; bisa diterima di mana saja.

Jadi, bila kita memang berniat mengembangkan minat baca pada anak, berikan dan ciptakan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk bergaul dengan bacaan.



[tulisan ini pernah dimuat dalam buku panduan pameran buku IKAPI 1995]
GEMAR MEMBACA, GEMAR MENULIS
Oleh A. Ariobimo Nusantara



Jika Anda tergolong orang yang gemar membaca, tentu belum lekang dari ingatan Anda serentetan iklan layanan masyarakat yang digeber harian Kompas di penghujung tahun 1996. Iklan gede-gedean yang diprakarsai oleh harian tersebut bekerja sama dengan berbagai perusahaan periklanan itu menekankan pentingnya gemar membaca sejak dini. Copy iklannya cukup menarik dan menggelitik, meski kita tak pernah tahu apakah iklan layanan masyarakat itu benar-benar “menyentakkan” masyarakat – khususnya yang belum menikmati renyahnya membaca.

Bolehlah saya kutipkan beberapa copy iklan yang menggelitik itu. “Bacaan Anda menunjukkan siapa Anda” (30/12/96), “Persiapan kehidupan: Buah hati Anda membutuhkan wawasan. Ajaklah mereka gemar membaca…” (31/12/96), “Akankah buku tetap menjadi sebuah ‘daftar’ hanya karena soal HARGA?” (29/12/96), “Membaca membuka mata hati memperluas wawasan” (3/1/97). Tentu saja, copy iklan itu masih diikuti body text yang kalau kita baca seluruhnya akan menunjukkan “perang kreativitas” di antara pekerja iklan.
Pertanyaan yang mencuat kemudian adalah: Apa keuntungan dari iklan layanan yang tentu berharga jutaan bahkan mungkin puluhan juta rupiah itu? Jelas, namanya saja iklan layanan masyarakat sehingga sifatnya bukan “menjual” sesuatu. Akan tetapi, sebenarnya lewat iklan itu kita akan menemukan sesuatu yang lebih berharga. Apa itu? Keluasan wawasan para pembuatnya, yang secara tidak langsung menyiratkan bahwa mereka juga termasuk orang-orang yang “gila buku”. Lebih jauh lagi, kita mendapatkan bukti nyata bahwa dengan gila membaca dan berolah kata pun orang dapat beroleh penghasilan yang menarik.

Revolusi Tulisan
Boleh dikata, ilustrasi di atas merupakan salah satu contoh dari “revolusi tulisan” yang tidak pernah dibayangkan oleh pencetusnya. Ketika pertam kali manusia menciptakan Alfabet (abjad) tentu bukan tanpa maksud. Alfabet (berasal dari nama huruf pertama Yunani alpha dan huruf kedua beta) berarti susunan huruf dalam urutan tertentu untuk menuliskan kata-kata atau bunyi dalam satu atau beberapa bahasa. Dengan alphabet, manusia lebih mudah menuangkan gagasan secara sistematis. Penciptaan alphabet boleh dibilang merupakan “revolusi besar” dalam sejarah kehidupan manusia karena manusia mulai memasuki tradisi baru, tradisi tulisan (literacy).

Menurut sejarahnya, alphabet tertua ditemukan pada abad ke 13 SM di Ugasit, Fenisia dalam bentuk tulisan paku yang mungkin merupakan contoh bagi alphabet Yunani yang dipakai sejak 900 SM. Alfabet Yunani ini dibawa oleh bangsa Etruria ke Roma yang kemudian menjadi abjad Latin.

Revolusi alphabet semakin besar-besaran manakala pada abad ke 15 Masehi, Gutenberg – seorang warga negara Jerman, menemukan sistem produksi karya cetak. Dengan kata lain, Gutenberg sebagai penemu mesin cetak, tinta cetak, huruf cetak yang dapat dilepas dan dipasang; penemu metode cetak, metode membuat huruf cetak dari campuran logam, telah menimbulkan revolusi di bidang perbukuan dan persurat-kabaran.
Penemuan Gutenberg semakin memacu lahirnya tradisi tulisan. Namun demikian, “revolusi” yang diciptakannya itu terpaksa memakan korban. Korban pertama adalah Gutenberg sendiri. Penemu ini terjerat hutang dan tidak sempat menikmati hasil penemuannya, bahkan hidup sengsara karena penemuannya. Sedangkan, korban yang lebih besar adalah tergesernya tradisi lisan (oral) oleh tradisi tulisan (literacy).

Akan tetapi, meski revolusi tulis menulis ini telah berabad-abad berpengaruh pada tradisi kelisanan kita, nyatanya tradisi tulisan belum sepenuhnya mengendap dalam budaya masyarakat kita. Mengenai hal ini, A. Teeuw memang pernah menyinggung bahwa masyarakat Indonesia masih dalam tahap peralihan dari tradisi lisan (oral) menuju tradisi tulisan (literacy). Banyak takaran mengenai hal ini, misalnya sinyalemen rendahnya minat baca, kesulitan mahasiswa dalam menulis skripsi, minimalnya produktivitas sarjana dalam melahirkan tulisan, termasuk juga banyaknya guru yang tak mampu menulis.
Padahal, di sisi lain kita sudah memasuki tahap pasca-tulisan (post-literacy), yakni ditandai dengan maraknya sarana komunikasi elektronik. Anehnya justru tradisi pasca-tulisan lebih cepat berkembang daripada tradisi tulisan. Mengapa? Satu-satunya jawab adalah karena memiliki kemiripan dengan tradisi lisan, meski yang terjadi hanya komunikasi satu arah.
Praktis, dengan cepatnya loncatan tradisi ini, tradisi tulisan seolah semakin alot berkembang. Betapa tidak, bila untuk memahami isi ensiklopedi misalnya, orang tidak perlu lagi bersusah payah membacanya, karena teknologi CD-ROM kini siap menampulkan seluruh isi ensiklopedi berikut gambar bergerak dan suaranya.

Tugas Membaca dan Menulis
Itulah sebabnya, Taufiq G Ismail – seorang penyair kondang – sangat prihatin karena pelajaran mengarang di sekolah menengah saat ini mendapat porsi yang sangat sedikit (Kompas, 22/12/95). Ia pun mengaku tak heran lagi bila saat ini banyak mahasiswa kesulitan menulis skripsi, yang selain menuntut ketrampilan berbahasa juga menuntut ketrampilan menyajikan gagasan ke dalam tulisan secara sistematis dan logis.

Memang, bagi sebagian besar mahasiswa, tugas menulis skripsi masih dipandang sebagai satu tugas yang mematikan. Untuk bisa melampaui tugas ini, seorang mahasiswa dituntut menguasai beberapa hal, mulai dari menguasai (membaca) sejumlah buku, memilih judul, membuat outline, merumuskan latar belakang masalah, kerangka pemikiran, dan metode penelitian – yang semuanya serba tertulis.

Padahal, latihan-latihan menulis, sebagaimana diprihatinkan oleh Taufiq G Ismail, jarang diperoleh lagi selepas dari sekolah dasar. Menulis, yang menjadi bagian dalam matapelajaran Bahasa Indonesia, terkadang harus tergusur oleh padatnya pengetahuan ketatabahasaan yang harus dipahami siswa. Jeda yang cukup panjang dalam latihan tulis menulis ini, jelas membawa pengaruh pada kerancuan berpikir dalam bahasa tulis.

Di sisi lain, tugas-tugas menulis/mengarang terkadang masih dianggap sebagai beban karena guru harus membaca semua hasil tulisan siswa. Sementara, nyatanya belum tentu semua guru memiliki minat besar dalam hal membaca dan menulis.

Sebagai konsekuensinya, kesulitan mengutarakan gagasan lewat tulisan tidak hanya dialami sewaktu menjadi mahasiswa, tetapi berlanjut terus, meski seseorang telah memasuki dunia kerja. Ironisnya, kesulitan ini banyak juga dialami oleh orang yang pekerjaan sehari-harinya justru bergelut dengan perkara tulis menulis, misalnya sekretaris, wartawan dan editor penerbit.

Kondisi ini membuktikan kepada kita bahwa hingga memasuki era cyberspace pun ternyata masih cukup banyak sumber daya manusia yang tak mampu mengorganisasikan gagasan dalam bangunan tulisan yang jelas dan logis. Akibatnya, banyak sekali kasus yang “memalukan” – dosen menjiplak skripsi mahasiswanya, larisnya bisnis jual-beli skripsi, atau minimnya penulis buku lokal.

Untuk mengatasi kondisi ini, tidak ada salahnya bila kebiasaan membaca dan latihan menulis sejak dini digiatkan terus tanpa mengalami senjang waktu. Sejalan dengan itu, kepada pelajar, mahasiswa, dan umum perlu dipikirkan kegiatan yang dapat merangsang kegemaran membaca dan menulis.

Bagi pelajar misalnya, bolehlah menghidupkan kembali tradisi mewajibkan siswa meminjam buku di perpustakaan kemudian pada kesempatan berikutnya guru mengadakan tes pemahaman siswa terhadap isi buku itu. Atau, memperbanyak tugas-tugas menulis, baik menulis surat, mengarang cerita, maupun menulis ilmiah.
Sebagai sumber daya manusia di abad ini, kita sudah cukup beruntung karena alphabet telah lama ditemukan. Kepentingan kita sekarang adalah meningkatkan kebiasaan disiplin berpikir, agar terasahlah kemampuan menyerap gagasan tertulis dan mengutarakan gagasan lewat bahasa yang jelas, logis, dan tertulis.



[tulisan ini pernah dimuat dalam buku panduan pameran buku IKAPI 1996]

Tuesday, August 12, 2008


EDITOR BUKU
BUKAN “KUTU” DALAM BUKU*
sepercik tukar pengalaman


Siapa mau jadi editor?
Editor atau penyunting (buku) barangkali merupakan salah satu profesi yang tergolong langka peminat. Hampir sebagian besar editor yang ada saat ini, tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada akhirnya ia harus menggantungkan hidupnya dari profesi ini.

Fakta berbicara. (1) anak muda lebih tertantang untuk ‘bermimpi’ menjadi dokter, insinyur, ekonom, ahli hukum, polisi, tentara, atau pilot, ketimbang menjadi editor; (2) mereka juga rela berdesak-desakan sekadar untuk mengikuti audisi untuk menjadi penyanyi, foto model, atau pemain sinetron; (3) adakah orang tua yang mengharapkan anaknya kelak menjadi seorang editor? –tentunya bukan orang tua yang bekerja di penerbitan; (4) profesi editor belum bisa dipakai sebagai ‘iming-iming’ untuk melamar seorang gadis.

Jika demikian, mengapa kita harus tetap bertahan menjadi editor?
Jawabnya pun beragam, kalau bukan karena (1) terpaksa/tidak ada pekerjaan lain; (2) ditugaskan sehingga tak bisa menolak; (3) telanjur sayang dengan pekerjaan itu; (4) memang ingin menjadi editor.

Bagaimana apresiasi terhadap editor?
Ada dua jenis apresiasi: dari lembaga tempat bekerja dan dari masyarakat umum. Apresiasi dari lembaga tentu saja berbeda antara satu lembaga dan lembaga lain, bergantung pada kebijakan tiap lembaga. Hingga saat ini belum ada aturan main yang seragam tentang hak dan kewajiban editornya. Sementara, apresiasi masyarakat umum yaitu penghargaan yang diberikan oleh masyarakat terhadap suatu karya buku. Apakah yang menjadi perhatian masyarakat (pembaca) terhadap sebuah karya buku? Jawabnya, judul, pengarang, penerbit, dan (sekarang mulai menjadi perhatian) desainer sampul. Adakah yang juga memberi perhatian pada siapa editor buku tersebut?

Memang, kejernihan informasi tentang apa, siapa, dan bagaimana editor buku baru ditimang oleh kalangan terbatas; lingkup insan perbukuan dan masyarakat yang ‘gila’ buku. Selebihnya, (1) tidak sadar bahwa sebuah buku tidak akan pernah terbit tanpa campur tangan seorang editor; (2) beranggapan bahwa siapa saja bisa menjadi editor.

Pengalaman empiris membuktikan, minornya pemahaman masyarakat atas profesi editor buku menjadi pelatuk utama munculnya anggapan bahwa editor di industri penerbitan buku tidak lebih dari seorang ‘tukang’. Tugasnya sungguh tidak menantang karena sebatas mengutak-atik bahasa, membetulkan letak titik-koma, dan mengetik naskah saja. Celakanya, hal ini mendorong munculnya pengarang-pengarang ‘hebat’—yaitu menafikan fungsi editor dalam menerbitkan karyanya. Lebih celaka lagi, jika pengarang jenis ini bertemu dengan mantan mahasiswanya yang kebetulan bekerja sebagai editor di penerbit tempat sang dosen akan menerbitkan naskahnya.

Apakah ruang lingkup kerja editor?
Tugas seorang editor dalam industri perbukuan bukan semata-mata menyunting kebahasaan suatu naskah. Tugas ini seharusnya sudah diemban oleh editorial assistant atau copyeditor.
Seorang editor seyogianya menguasai tugas-tugas yang termasuk dalam substantive editing dan mechanical editing. Dalam substantive editing, editor harus mampu menilai dan mempertimbangkan kelayakan terbit sebuah naskah. Di sini, tidak tertutup kemungkinan seorang editor mencetuskan ide atau konsep buku yang akan diterbitkan, sekaligus mencari penulisnya. Termasuk dalam tugas ini, misalnya, seorang editor juga harus dapat berkomunikasi dengan pengarang atau penerbit luar negeri guna menjajaki kemungkinan penerbitan alih bahasa.

Sementara, dalam mechanical editing, seorang editor mulai memasuki proses panjang penerbitan buku. Selain memeriksa kembali hasil penyuntingan kebahasaan yang telah dilakukan oleh asisten editor atau copyeditor, seorang editor harus piawai dalam melakukan sejumlah tugas, misalnya menyusun ide pengarang ke dalam bentuk yang semenarik mungkin (gaya bahasa yang digunakan, mengatur sistematika penulisan), menyusun indeks, meramu sinopsis, dan memberi pertimbangan-pertimbangan kepada bagian visual dan desain buku. Bahkan ada kalanya editor dituntut mengenal seluk-beluk produksi buku, analisis pasar, hingga melakukan pra-kalkulasi. Pendek kata, seorang editor harus siap menjadi seorang generalis dalam bidang penerbitan buku, di samping tetap sebagai spesialis dalam salah satu ilmu.
Lembaga penerbitan yang profesional, biasanya sudah membedakan secara tajam fungsi-fungsi copyeditor, editor, sampai acquisition editor (posisi yang disebut terakhir masih langka dalam struktur organisasi penerbit di Indonesia). Masing-masing memiliki ruang lingkup kerja sendiri, bahkan ada pula penerbit yang mempertajamnya dengan menyediakan editor-editor khusus—sesuai dengan bidang garapan. Misalnya, editor fiksi, editor sains, editor humaniora, editor kesehatan, dll.
Oleh karena itu, kehadiran editor dari berbagai disiplin ilmu mutlak diperlukan dalam satu usaha penerbitan umum. Tetapi, inilah hambatannya, biasanya penerbit kesulitan menemukan orang yang menguasai suatu ilmu, menyukai dunia perbukuan, sekaligus memahami tatacara penyuntingan. Kendala ini muncul akibat belum banyak mahasiswa yang benar-benar menyiapkan diri untuk bekerja sebagai editor selepas dari perguruan tinggi. Itu sebabnya, menjadi editor sebenarnya tidak gampang.

Tips Penutup
  • Editor adalah pembantu penulis naskah. Oleh karena itu, sebaiknya editor tidak menempatkan diri pada posisi penulis naskah.
  • Editor haruslah rendah hati atau tidak angkuh dalam menghadapi penulis naskah, meskipun ada kemungkinan editor lebih pintar dan ‘lebih tinggi’ ilmunya daripada penulis naskah.
  • Sebelum mulai mengubah-ubah dan mencoret-coret naskah, sebaiknya editor berkonsultasi terlebih dulu dengan penulis naskah.
  • Sebelum mulai mengedit naskah, sebaiknya editor memahami benar cirri khas naskah bersangkutan. Tanpa pemahaman itu, hasil kerja editor akan berantakan.
  • Kenali benar watak dan temparemen penulis naskah: termasuk kategori penulis yang gampang, sulit, atau yang sulit-sulit gampang.
  • Setelah buku terbit, segeralah baca ulang untuk menemukan sekiranya ada hal-hal yang harus segera diperbaiki.

© ariobimonusantara
mei 2006
*Diolah kembali dari artikel yang pernah dimuat di Berita Buku, Juli 1996 dengan judul yang sama. Disajikan di Pusgrafin Politeknik UI jurusan ilmu penerbitan

Saturday, June 28, 2008


FRANKFURT BOOK FAIR 2006:
Sebuah Ziarah Perbukuan Dunia

oleh Ariobimo Nusantara




Setiap memasuki bulan Oktober, mata dunia perbukuan internasional tertuju pada suatu agenda prestisius, Frankfurt Book Fair (FBF), sebuah pameran buku terakbar di muka bumi ini. Tahun 2006, Frankfurt Book Fair memasuki usianya yang kelima puluh delapan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama penyelenggaraan pameran (4 – 8 Oktober), Frankfurt ibarat sebuah kota ziarah bagi para profesional perbukuan dari seluruh penjuru dunia, tanpa memandang perbedaan ras, bangsa, agama, budaya, dan sosial-politik. Semuanya seolah lebur dalam sebuah keriaan yang sama: buku.


Bagi masyarakat Frankfurt sendiri, FBF sudah menjelma menjadi sebuah peristiwa budaya yang disikapi secara sinergis oleh hampir seluruh elemen masyarakat. Hal ini menjadi bukti bahwa antara pemerintah dan rakyatnya ada kesamaan komitmen dalam menyikapi perhelatan perbukuan internasional ini. Tak jadi soal apakah itu dengan merelakan tempat usahanya ditempeli poster dan agenda pameran, ataukah –bagi para mahasiswa—menjadi volunteer dalam kepanitiaan (termasuk menjadi penjaga karcis, penjaga pintu, atau sopir bus “wira-wiri” di area pameran). Sistem sarana transportasi publik pun menggratiskan ongkos transpor ke dan dari arena pameran. Dan, tentu saja yang paling menarik adalah partisipasi aktif masyarakat saat kesempatan untuk publik dibuka pada dua hari terakhir pameran. Selain memadati ruang-ruang pameran, para remaja Frankfurt juga bersemangat dalam mengikuti kompetisi ‘Big-in-Japan Cosplay’ yang berhadiah seminggu berlibur di Jepang. Atas partisipasi tersebut, panitia menggratiskan biaya masuk bagi mereka yang berpakaian ala tokoh-tokoh komik Jepang (manga) itu.

Tema Pendidikan
Sebagaimana ditradisikan, setiap tahun panitia selalu mengangkat tema utama. Tahun ini tema yang diangkat bertajuk “Pendidikan untuk Masa Depan”. Tema ini sangat menarik karena berangkat dari kesadaran bahwa “Pengembangan sektor pendidikan akan menentukan masa depan individu, masyarakat, dan khususnya adalah dunia penerbitan,” tegas Juergen Boos, direktur Frankfurt Book Fair, saat membuka pameran. “Dan, mulai tahun ini pula, Frankfurt Book Fair akan fokus pada tema pendidikan dan literasi, sebab masyarakat yang melek baca akan mendukung pertumbuhan bisnis perbukuan di samping meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri,” lanjutnya.

Sejalan dengan tema tersebut, menurut catatan panitia, ada sekitar 1.300 stan yang secara khusus memamerkan produk-produk yang terkait dengan dunia pendidikan. Mulai dari buku pelajaran atau buku teks, buku pengayaan atau pendukung pendidikan, hingga beragam judul referensi bagi dunia pendidikan—termasuk tren model pengajaran masa depan: materi pelajaran yang disajikan secara multimedia.

Sebagai pendukung tema, digelar pula sejumlah seminar/workshop, termasuk kongres guru yang pertama yang membahas peran sekolah dalam meggalakkan program melek baca bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan kampanye melek baca (LitCam: Literacy Campaign)—yang kali ini secara penuh didukung oleh UNESCO. “’Pendidikan untuk Semua’ adalah prioritas bagi UNESCO, mengingat tingkat melek baca masyarakat dunia yang masih belum menggembirakan,” siar UNESCO Institute for Lifelong Learning. Dalam catatan mereka, hingga saat ini lebih dari 770 juta orang di dunia masih belum melek baca. Inilah yang harus diperangi oleh dunia perbukuan secara menyeluruh. Sebab, UNESCO sudah menyatakan bahwa melek baca adalah hak setiap orang dan kunci bagi pengembangan diri manusia.

Secara umum, data statistik pameran kali ini menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kali ini, peserta pameran sekitar 7.272 stan, berasal dari 113 negara, dengan total judul yang dipamerkan kurang lebih 382.466 judul: terdiri dari 270.553 backlist (judul lama) dan 111.913 judul baru! Pertumbuhan yang cukup tajam khususnya terjadi pada sektor rights agent (bank naskah), yang tahun ini jumlahnya ada 283 agen. Peningkatan jumlah agen naskah ini patut dicermati sebagai tren yang akan terus berkembang di masa depan. Dari tahun ke tahun jumlah penerbit yang menyerahkan pengelolaan hak ciptanya kepada agen menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga akhir pameran, total jumlah pengunjung mencapai sekitar 286.000 orang, terpaut sedikit dibanding jumlah pengunjung tahun lalu yang tercatat 284.838 orang. (diolah dari: Presse & Unternehmenskommunikation)

India: Guest of Honour 2006



"Sebagian profil pengarang India yang karyanya ditampilkan dalam pameran. "



Menjadi Guest of Honour (tamu kehormatan) bagi India bukanlah pengalaman baru, sebab pada 1986 India pernah menjadi tamu kehormatan. Tahun ini India hadir dengan mengangkat motto “Today’s India” dengan menampilkan sejumlah program budaya, antara lain sastra, musik, tarian, dan film. Lebih dari 150 penerbit ambil bagian dalam pameran (jumlah ini tentu sangat kecil dibanding estimasi jumlah penerbit di India yang mencapai 16.000 penerbit) dan sekitar 70 pengarang India ikut menyemarakkan acara dalam pelbagai diskusi. Nama-nama seperti Amitabh Gosh, Mahashweta Devi, Amit Chaudhuri, Vikram Seth, Arundhati Roy, Vinod Kumar Shukla, Kunwar Narayin, G.P. Deshpande, Shaharyar, Javed Akhatr, dan K. Jayakantan adalah sedikit di antara pengarang India yang telah go international.


"Sebagian karya Guest of Honour dapat
dinikmati secara audible."
Di bawah koordinasi National Book Trust, India menampilkan sekitar 2000 hasil karya pengarang India, termasuk di antaranya karya-karya yang ditulis setelah India merdeka dari Inggris pada 1947. Tentu saja tak ketinggalan, sejumlah produksi Bollywood ikut unjuk diri menyemarakkan pameran ’kebangkitan India’ ini.


India memang pantas menjadi tamu kehormatan (lagi) pada acara ini. Dalam sebuah situs resmi perbukuan India dikatakan bahwa industri perbukuan India memang penuh keunikan, barangkali ia menjadi satu-satunya negara di dunia ini yang menerbitkan buku dalam 24 bahasa lokal, di samping bahasa Inggris. Dengan populasi yang lebih dari satu miliar penduduk dan sekitar 77.000 judul baru terbit setiap tahun (sekitar 40%-nya atau 20.000-an judul menggunakan bahasa Inggris) India bukan hanya menjadi “raksasa budaya” tetapi juga akan berkembang menjadi pasar buku dan media yang cukup menjanjikan. Banyaknya terbitan dalam bahasa Inggris ini akhirnya menempatkan India ke dalam peringkat ketiga negara-negara yang memiliki terbitan dalam bahasa Inggris terbanyak (setelah Amerika dan Inggris).


Pesatnya pertumbuhan penerbitan buku di India juga berkat dukungan dunia internasional yang turut menjadi konsumen produksi buku India, khususnya dalam bidang filsafat, agama, yoga, budaya, sejarah, dan sastra. Bahkan tak jarang buku-buku perguruan tinggi India juga diserap oleh negara-negara berkembang. Bagi India, buku sudah menjadi komoditas ekspor yang mencapai 4.3 juta rupees per tahun. Dan, jumlah ini tampaknya akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang mengingat sales yang dicapai oleh India dalam pameran kali ini pun meningkat tajam.


Naringer Singh Randhawa, salah seorang direktur National Book Trust, lembaga yang menjadi koordinator delegasi, mengatakan bahwa di dalam delegasinya ia juga menyertakan sejumlah penerbit baru yang sama sekali belum pernah berurusan dengan dunia internasional. Mereka boleh disebut penerbit skala kecil dan menengah, namun mereka adalah calon pebisnis di masa depan. Sebab, keikutsertaan mereka kali ini lebih ditekankan pada aspek belajar ‘bisnis internasional’ dari para seniornya sekaligus mengenal perkembangan dunia penerbitan internasional. “Kami tidak bisa menutup diri terhadap perubahan dunia yang begitu pesat, termasuk perkembangan kualitas yang dihasilkan oleh negara lain,” tegas Randhawa.

Ziarah Perbukuan
Mengunjungi Frankfurt Book Fair, tampaknya memang bukan sekadar memasuki suatu ‘pesta buku’ melainkan lebih tepat disebut sebagai melakukan suatu ‘ziarah buku’. Mengapa demikian? Di zaman yang serba digital ini, komunikasi bisnis tak lagi mengenal batas-batas ruang dan waktu. Dalam hitungan menit, kalau perlu, kesepakatan bisnis sudah bisa dicapai melalui teknologi Internet. Pun, memindai judul-judul untuk dialihbahasakan juga lebih nyaman dilakukan lewat berselancar di dunia maya. Yang penting mata dan telinga cukup jeli dalam menangkap kecenderungan pasar.


Bila demikian, apa manfaat secara langsung dari mengunjungi FBF? Ada yang mengatakan bahwa inilah sisi humanis dari bisnis. FBF menjadi ajang perjumpaan pribadi antarpenerbit untuk membina hubungan baik dan kedekatan, yang akan sangat berpengaruh dalam kelangsungan bisnis itu sendiri. “Sekali lagi, pameran buku terbesar di dunia ini telah menunjukkan betapa sangat diperlukannya pameran ini bagi penerbit, penjual, pengarang, dan pembaca untuk bertemu secara personal. Mereka tetap memerlukan forum internasional yang dapat memberi dampak secara global,” tegas Dr. Gottfried Honnefelder, President of the German Publishers & Booksellers Association - Börsenverein.


Dengan kata lain, mengunjungi FBF tak melulu harus berujung pada jual/beli hak cipta. Atmosfer FBF juga bisa dimanfaatkan oleh penerbit untuk berbenah dan meneguhkan diri. Bahkan bukan tak mungkin FBF berpotensi untuk mengubah visi, mimpi, hingga strategi bisnis pengunjungnya—terutama para profesional perbukuan. Bayangkan saja, bila penerbit amatir India yang hadir tahun ini diramalkan akan menjadi pebisnis internasional beberapa tahun ke depan, di manakah penerbit-penerbit terkemuka Indonesia pada saat yang sama? Bagaimanakah kita akan menyikapi fenomena ini? Mungkinkah pada periode yang sama penerbit kita telah melangkah lebih pesat dibanding penerbit amatir India tersebut, ataukah justru menjadi pasar bagi penerbit amatir India ini?


Sampai di sini kita belum bicara tentang mimpi menjadi Guest of Honour. Dalam sebuah obrolan singkat dengan Warran Holger, seorang pengajar dari Goethe University yang setia mengunjungi dan mengamati Frankfurt Book Fair, kami berhitung mengenai modal apa saja yang diperlukan untuk meraih mimpi itu. Modal minimal tentu saja berupa rapor perbukuan nasional: berapa banyak judul lokal yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa asing, atau berapa besar peta kekuatan judul lokal yang berpotensi mengglobal. Tentu saja, peranserta pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya bisnis perbukuan di Tanah Air juga akan menjadi catatan tersendiri.


"Produk lokal tak kalah menarik dengan produk
luar."

Oleh karena itu, menurut Holger, jika pun kesempatan itu ada, Indonesia harus bersaing dengan Malaysia yang sudah sejak beberapa tahun siap untuk menjadi Guest of Honour. Sejak beberapa tahun terakhir, Malaysia memang amat bersemangat mendekati penyelenggara Frankfurt Book Fair agar peristiwa besar di Jerman itu bertemakan karya-karya buku berbahasa Melayu. Bahkan secara konsisten Malaysia tak pernah absen mengutus wakil-wakilnya. Sebagai catatan, bila pada 2004 Indonesia diwakili oleh lima stan, Malaysia sudah mensponsori sepuluh stan. Satu-satunya wajah Indonesia hanya diwakili oleh stan GagasMedia—itu pun sebagai stan undangan khusus.

Masih ada cara untuk mewujudkan mimpi ini, hibur Holger, Indonesia (dan mungkin juga Brunei Darussalam dan Singapura) bukannya bersaing dengan Malaysia, melainkan justru mendukung upaya yang tengah dirintis Malaysia—menjadi sebuah desakan kepada panitia, bukan atas nama suatu negara, melainkan atas nama karya-karya berbahasa Melayu/Indonesia.


Dengan langkah ini, bukan tak mungkin panitia Frankfurt Book Fair akan tergerak untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, sebuah misi diplomasi kebudayaan—khususnya dalam bidang perbukuan—harus mulai dijajagi di tingkat reginoal dan internasional. Kesempatan terdekat adalah pameran tahun 2009 atau 2010, mengingat panitia telah menetapkan tamu kehormatan tahun 2007 (Budaya Catalan) dan 2008 (Turki).


Di tataran riil, catatan ini barangkali bisa menjadi bahan refleksi bagi penerbit Indonesia, di tengah fenomena ‘diskon gede-gedean, cuci gudang, dan jual buku murah’ yang semakin menggejala di kalangan penerbit Indonesia. Ke manakah penerbitan buku di Indonesia akan dibawa melangkah?



"Penerbit kelas dunia berlomba menyediakan tempat yang nyaman
untuk transaksi bisnis."